GEGAS || DUMAI - Suara jangkrik di kebun sawit Kelurahan Titian Antui, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, tak berhenti sejak sore itu.
Di antara rimbun pelepah dan batang sawit yang rapat, warga menyalakan senter dan lampu minyak, menyisir jalur setapak dengan langkah hati-hati.
Mereka mencari Tiopan Siregar, 37 tahun, petani sawit yang tak kunjung pulang sejak Senin, 20 Oktober 2025.
Pagi itu, Tiopan berangkat seperti biasa. Sekitar pukul sembilan, ia berpamitan untuk memanen sawit di kebunnya di kawasan Gajah Mada, tak jauh dari rumahnya. Namun menjelang sore, kabar buruk datang. Saat matahari hampir terbenam, keluarga yang menunggu di rumah mulai gelisah.
Hingga pukul empat sore, Tiopan tak juga kembali. Yang ditemukan di lokasi hanya bekal makannya β selembar daun pisang, nasi dingin, dan air minum yang tersisa separuh.
Malam itu pencarian dimulai. Warga dan keluarga menyisir jalur kebun, berteriak memanggil nama Tiopan di antara barisan pohon sawit. Sekitar pukul lima sore, seorang warga sempat melihat sosok mirip Tiopan di kawasan Air Hitam. Namun ketika didekati, sosok itu sudah menghilang di balik semak.
Keesokan harinya, informasi itu sampai ke Kantor SAR Dumai. βKami menerima laporan resmi sekitar pukul 10 pagi, Selasa 21 Oktober,β kata Fauzan, Komandan Tim Rescuer Unit Siaga SAR Dumai.
Sebanyak 6 (enam) personel langsung diberangkatkan menuju lokasi kejadian dengan jarak tempuh sekitar 45 kilometer. Mereka tiba dua jam kemudian dan segera bergabung dengan warga serta aparat setempat untuk menyusun rencana pencarian.

Metode pencarian dilakukan dengan teknik penyapuan paralel seluas 0,75 kilometer persegi. Setiap hari, wilayah pencarian diperluas: dua kilometer di hari kedua, empat kilometer di hari ketiga, dan enam kilometer di hari keempat.
Namun hasilnya tetap nihil. Cuaca lembab, semak basah, dan tanah berlumpur membuat pencarian berlangsung lambat.
Hingga hari kelima, Sabtu 25 Oktober, tim SAR gabungan kembali turun ke lapangan sejak pagi. Pukul 10.35 WIB, upaya panjang itu akhirnya membuahkan hasil.
Tiopan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, sekitar 5,2 kilometer dari lokasi awal ia dilaporkan hilang. Tubuhnya tergeletak di bawah pohon sawit, di kawasan sunyi dengan tanah lembek dan genangan air dangkal.
Proses evakuasi berlangsung cepat. Jenazah Tiopan dibawa ke RSUD Duri untuk pemeriksaan lebih lanjut. Operasi SAR resmi ditutup pukul 12.30 siang setelah seluruh unsur gabungan kembali ke pos masing-masing.
βMeski hasilnya pahit, ini menjadi pelajaran bagi kami semua. Di wilayah perkebunan luas seperti ini, risiko tersesat sangat tinggi,β ujar Fauzan dengan nada lirih.
Bagi keluarga Tiopan, duka bercampur lega. Pencarian panjang yang menegangkan berakhir, meski dengan kehilangan yang tak tergantikan. Di antara hamparan sawit yang kembali sunyi, warga membakar kemenyan dan menabur bunga di tempat terakhir korban ditemukan β tanda pamit bagi seorang petani yang seumur hidupnya tak pernah lepas dari kebunnya sendiri. * (Denny W)
