GEGAS || PEKANBARU – Kekhawatiran terhadap potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau menjelang musim kemarau mendorong puluhan aktivis lingkungan turun ke ruang publik.
Mereka yang tergabung dalam Gerakan Aktivis se-Riau (GAS) menggelar aksi damai dan mimbar bebas di kawasan Car Free Day (CFD) depan Kantor Gubernur Riau, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, Minggu pagi (7/6/2026).
Aksi itu diikuti sekitar 30 aktivis lingkungan hidup dan relawan. Dengan membawa berbagai poster, spanduk, dan alat peraga, massa menyuarakan pentingnya menjaga hutan, mencegah pembakaran lahan serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman krisis ekologis yang masih membayangi Provinsi Riau.
Sejumlah pesan lingkungan terpampang dalam aksi tersebut. Di antaranya seruan menghentikan karhutla, memulihkan ekosistem yang rusak, mengurangi pencemaran limbah dan mikroplastik, hingga penolakan terhadap eksploitasi sumber daya alam yang dinilai berpotensi memperparah kerusakan lingkungan.
Koordinator lapangan aksi, Muhammad Ali, dalam orasinya mengajak masyarakat yang beraktivitas di kawasan CFD untuk berperan aktif mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Menurut dia, menjaga kelestarian hutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen masyarakat.
Ali menilai kewaspadaan perlu ditingkatkan karena Riau akan menghadapi periode kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, terutama di kawasan gambut yang selama ini dikenal sangat rentan terbakar ketika kondisi kering berkepanjangan.
“Kami mengajak masyarakat bersama-sama menjaga hutan dan lahan demi keberlangsungan ekosistem serta lingkungan hidup yang sehat bagi generasi mendatang,” katanya dalam mimbar bebas tersebut.
Senada dengan itu, Koordinator Jikalahari, Okto Yugo Setiyo, menjelaskan bahwa simbol “Godzila” yang ditampilkan dalam aksi merupakan representasi ancaman kemarau panjang yang dapat memicu bencana ekologis apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Dikatakan, luasnya kawasan gambut di Riau menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pencegahan karhutla. Selain faktor cuaca, pembukaan lahan secara masif juga disebut berkontribusi terhadap meningkatnya kerentanan lingkungan terhadap kebakaran.

Jikalahari mengajak masyarakat untuk mengambil langkah sederhana namun berdampak besar, seperti menanam pohon, menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Kesadaran kolektif, kata dia, menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kelestarian alam.
Selain orasi, massa juga menampilkan pertunjukan teatrikal yang menggambarkan ancaman kerusakan lingkungan dan risiko kebakaran hutan.
Aksi kemudian dilanjutkan dengan show of force mengelilingi Bundaran Tugu Zapin sebagai bentuk kampanye publik untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla.
Para peserta berharap pesan yang disampaikan melalui aksi tersebut dapat menjangkau masyarakat luas sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan agar memperkuat langkah mitigasi sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.
Aksi yang berlangsung sejak pagi itu berakhir sekitar pukul 08.55 WIB. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib, sementara situasi keamanan di lokasi tetap kondusif hingga massa membubarkan diri.* (Marden)
